Memahami Hakikat Orang Miskin yang Sebenarnya

Yatim dan Dhuafa

Memahami Hakikat Orang Miskin yang Sebenarnya

Kaum dhuafa adalah golongan yang kehidupannya menjadi sebagian dari tanggung jawab kita. Secara garis besar, terdapat setidaknya 6 kelompok orang yang termasuk ke dalam kaum lemah ini yakni anak yatim, janda yang ditinggal mati kepala keluarga, orang miskin, orang fakir, muallaf, dan juga budak.

Namun, tentu Kawan sempat dan masih bertanya – tanya apakah orang yang meminta – minta termasuk juga ke dalam golongan dhuafa? Mengingat kondisi mereka kerap kali terlihat masih sehat dan tak menunjukan kelemahan sedikit pun, lantas apakah mereka berhak mendapat santunan dari kita?

Sejatinya, dalam ajaran agama Islam tidak ada larangan untuk membiasakan diri berbagi kepada orang lain. Hanya saja, jika pihak yang menerima tersebut adalah orang yang pekerjaannya meminta – minta, tentu santunan kita akan sedikitnya salah sasaran.

Bukan tanpa alasan, pasalnya orang yang meminta – minta jika ditelaah melalui kondisi mereka tidaklah termasuk ke dalam golongan dhuafa. Rasulullah Muhammad SAW terkait hal ini pernah bersabda,

“Bukanlah yang disebut orang miskin itu adalah orang yang ditolak oleh orang lain ketika meminta sesuap atau dua suap makanan.  Hanya saja yang disebut orang miskin adalah orang yang tidak memiliki kecukupan, akan tetapi dia malu, atau tidak meminta – minta pada orang lain dengan memaksa (walaupun dia membutuhkan).” (HR. al – Bukhari n0. 1476 dan Muslim no. 1039)

Dari hadist di atas dapat kita simpulkan bahwasanya pemahaman rata – rata manusia terhadap orang miskin kalangan dhuafa selama ini telah salah. Orang miskin yang sebenarnya memiliki hak atas santunan kita adalah mereka yang telah berusaha mencari nafkah tapi tidak mencukupi segala kebutuhannya. Orang miskin bukanlah mereka yang meminta dalam kondisi sehat dan mampu.

Oleh karena itu, sebelum kita memutuskan untuk berbagi rejeki tidak ada salahnya juga untuk mempertimbangkan terlebih dahulu hal tersebut. Cara seperti ini sangat dianjurkan agar santunan jatuh pada orang yang tepat. Tidak hanya itu, cara ini juga diharapkan dapat menyadarkan mereka yang meminta – minta untuk bertaubat dan berusaha serta yakin atas kebaikan Allah SWT.

Back To Top